POSO — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan permukaan Danau Poso menyusut sekitar 200 meter dari garis pantai sebelumnya. Kondisi tersebut mulai berdampak pada aktivitas pertanian warga hingga operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso.

Penyusutan muka air danau terlihat dari semakin luasnya hamparan pasir di sepanjang pesisir. Bagi masyarakat yang menggantungkan kebutuhan air pertanian dari Danau Poso, kondisi tersebut membuat proses pengairan sawah semakin sulit dan mahal.

Petani di Desa Pamona, Kecamatan Pamona Puselemba, selama ini mengandalkan mesin pompa untuk mengambil air dari danau guna mengairi lahan pertanian. Namun, karena posisi air semakin jauh dari garis pantai, warga harus menambah panjang pipa serta meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan mesin pompa.

Salah seorang petani, Pendeta Imanuel Pasambaka, mengatakan penyusutan air sudah mencapai sekitar 200 meter. Ia khawatir kondisi tersebut semakin parah apabila kemarau dan minimnya curah hujan terus berlangsung.

“Sekarang surutnya sudah sekitar 200 meter dari bibir danau. Kalau kemarau berlanjut dan curah hujan tetap rendah, surutnya bisa makin jauh sampai 500 meter,” kata Imanuel, seperti dikutip TVRI Sulteng.

Biaya Pengairan Sawah Membengkak

Menyusutnya Danau Poso turut meningkatkan biaya produksi petani. Warga harus membeli pipa tambahan dan mengeluarkan biaya lebih besar untuk BBM agar air dapat dialirkan dari titik danau yang semakin jauh.

Imanuel mengaku harus mengeluarkan sekitar Rp3 juta hanya untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertaniannya yang relatif sempit.

Sementara itu, petani dengan lahan lebih luas dan lokasi yang lebih jauh dari garis air harus mengeluarkan biaya operasional jauh lebih besar, bahkan disebut mencapai sekitar Rp30 juta.

Untuk mengatasi beban tersebut, sejumlah petani terpaksa melakukan iuran bersama selama musim tanam.

Persoalan semakin berat karena hasil panen juga mengalami penurunan akibat kondisi kekeringan. Imanuel menyebut hasil panen keluarganya turun drastis dibandingkan kondisi normal.

“Hasil panen turun pak. Kakak saya yang biasanya bisa panen sampai 11 ton, musim ini hanya dapat 12 karung,” ujarnya.

Pemkab Siapkan Solusi Irigasi

Pemerintah Kabupaten Poso menyatakan telah berkoordinasi dengan instansi teknis untuk mencari solusi atas persoalan ketersediaan air bagi sektor pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Poso, Mustofa A Tohan, mengatakan pemerintah daerah telah mengusulkan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III.Rencananya, pembangunan JIAT tersebut mencakup 21 titik di wilayah Kecamatan Pamona Puselemba.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif sumber air bagi lahan pertanian apabila ketersediaan air permukaan dari Danau Poso terus menurun.

Elevasi Danau Turun, PLTA Poso Lakukan Penyesuaian

Dampak kemarau tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Penurunan curah hujan di wilayah tangkapan air Danau Poso juga memengaruhi elevasi danau yang menjadi sumber utama PLTA Poso.

PT Poso Energy sebelumnya menyatakan telah melakukan pengaturan porsi energi listrik dari PLTA Poso untuk menjaga keandalan pasokan listrik selama menghadapi fenomena El Niño.

PLTA Poso memasok energi listrik untuk empat provinsi di Sulawesi. Karena itu, kondisi ketersediaan air di Danau Poso menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pola operasi pembangkit.

Poso Energy juga menggeser sebagian produksi energi dari periode puncak kemarau September–Oktober ke November–Desember dengan mempertimbangkan kondisi ketersediaan air dan perkiraan masuknya musim hujan.

Manajemen Poso Energy menyatakan pasokan energi masih dapat dipenuhi sesuai target dengan asumsi hujan mulai meningkat pada akhir Oktober hingga Desember. Namun, apabila curah hujan tetap berada di bawah normal, produksi listrik berpotensi mengalami penurunan.

Kondisi Danau Poso kini menjadi perhatian karena menyangkut dua kebutuhan penting sekaligus, yakni keberlangsungan pertanian masyarakat dan ketersediaan energi listrik. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan langkah mitigasi berjalan agar dampak kemarau tidak semakin meluas apabila kondisi kering berlanjut.

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *