Budaya Membaca di Tengah Era AI, Penggerak Literasi Timika Dorong Konsistensi Pemerintah Daerah

MIMIKA — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dinilai membawa perubahan besar terhadap kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan. Di tengah kemudahan mendapatkan informasi secara instan, budaya membaca buku secara utuh justru menghadapi tantangan baru.Kondisi tersebut menjadi perhatian penggerak literasi di Timika, Tobi Bagubau, yang mendorong pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan serta Dinas Perpustakaan, untuk memperkuat gerakan literasi secara konsisten dan nyata di lingkungan masyarakat.
Menurut Tobi, membangun budaya membaca tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial, pembangunan fasilitas perpustakaan, atau program yang berlangsung dalam waktu tertentu. Budaya membaca membutuhkan proses panjang, pengulangan, ruang yang mendukung, serta keteladanan dari para pemimpin.Ia menilai, berbagai program literasi yang pernah digalakkan di Indonesia telah memberikan dampak positif.
Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga agar gerakan tersebut tidak berhenti ketika momentum program atau kegiatan berakhir.“Budaya membaca tidak lahir hanya karena ada rak buku atau kegiatan literasi.
Kebiasaan membaca harus dirawat secara terus-menerus dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Tobi.Ia mencontohkan kondisi yang masih dapat ditemukan di sejumlah lingkungan pendidikan, ketika fasilitas literasi yang sebelumnya dibangun tidak lagi dimanfaatkan secara maksimal.
Rak buku dapat tetap berdiri, tetapi koleksi buku berkurang, bahkan ada fasilitas yang akhirnya tidak digunakan.Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sarana fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan kebiasaan dan ekosistem membaca.
Membaca di Tengah Perubahan TeknologiTobi juga menyoroti perubahan perilaku membaca sejak berkembangnya teknologi digital dan AI.Menurutnya, masyarakat kini dapat memperoleh ringkasan sebuah buku, penjelasan suatu teori, bahkan perbandingan berbagai pemikiran hanya dengan mengetikkan pertanyaan kepada mesin.
Kemudahan tersebut memang memberikan manfaat besar. Namun, pada saat yang sama, terdapat risiko manusia semakin jarang mengalami proses membaca secara mendalam.“Membaca buku bukan hanya soal mendapatkan informasi. Ada proses mengikuti gagasan, memahami argumen, mengalami kebingungan, membaca ulang, membuat catatan, kemudian membangun pemikiran sendiri,” katanya.Ia menilai, penggunaan AI seharusnya tidak membuat manusia meninggalkan buku, melainkan menjadi alat pendukung untuk memperluas pengetahuan.
Menurutnya, manusia tetap perlu mempertahankan kemampuan membaca, menulis, menganalisis, dan berpikir kritis agar tidak sepenuhnya bergantung pada jawaban instan dari teknologi.
Pemimpin Perlu Menjadi TeladanTobi berharap pemerintah daerah di Kabupaten Mimika dapat mengambil peran lebih besar dalam membangun budaya literasi.
Ia menilai, kepala daerah, kepala dinas, kepala sekolah, guru, tokoh masyarakat, hingga pemimpin organisasi dapat memberikan contoh sederhana dengan menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Keteladanan tersebut, menurutnya, akan memberikan pesan yang lebih kuat dibandingkan sekadar slogan atau kampanye.“Kalau pemimpin membaca, masyarakat akan melihat bahwa membaca bukan pekerjaan tambahan. Membaca adalah bagian dari kehidupan dan kebutuhan untuk membangun manusia,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar kegiatan literasi tidak hanya dilaksanakan ketika terdapat program atau anggaran kegiatan. Gerakan membaca harus hadir secara konsisten di lingkungan sekolah, kampus, komunitas, taman baca, ruang publik, hingga lingkungan sosial masyarakat.Bukan Sekadar Momentum dan AnggaranTobi mengingatkan agar program peningkatan sumber daya manusia tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Menurutnya, penggunaan anggaran untuk kegiatan literasi harus dapat dilihat dampaknya secara nyata. Pemerintah perlu memiliki ukuran yang jelas mengenai perubahan kebiasaan membaca masyarakat setelah sebuah program dilaksanakan.
“Jangan sampai pembangunan sumber daya manusia hanya menjadi janji dalam program atau alasan untuk mendapatkan anggaran ketika kegiatan berlangsung. Yang perlu dilihat adalah faktanya: apakah masyarakat benar-benar membaca, apakah anak muda mendapatkan ruang untuk belajar, dan apakah kebiasaan itu berlangsung setelah kegiatan selesai,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat literasi sebagai sebuah proyek, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kualitas generasi muda Mimika.Gerakan Literasi Harus Berbasis FaktaBagi Tobi, keberhasilan gerakan literasi tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya seminar, spanduk, kegiatan peluncuran program, atau jumlah peserta dalam sebuah acara.Lebih jauh, keberhasilan harus terlihat dari perubahan nyata di masyarakat.
Apakah semakin banyak anak muda membaca? Apakah perpustakaan benar-benar digunakan? Apakah taman baca hidup? Apakah komunitas literasi mendapatkan ruang? Apakah sekolah memiliki budaya membaca yang berjalan secara konsisten?Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai penting agar pemerintah dan masyarakat dapat membedakan antara gerakan literasi yang benar-benar hidup dengan kegiatan yang hanya muncul ketika ada momentum.
Tobi berharap Timika dapat membangun ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah, sekolah, kampus, komunitas, pemuda, media, perpustakaan, serta masyarakat secara luas.
Menurutnya, gerakan literasi tidak harus selalu dimulai dari program besar. Kebiasaan sederhana seperti membaca secara rutin, membuat catatan, berdiskusi dan menulis dapat menjadi langkah awal.“Tidak harus langsung membaca berjam-jam. Yang penting ada kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Dari kebiasaan kecil itu dapat tumbuh budaya membaca,” katanya.
Ia pun mengajak generasi muda Timika untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan, bukan hanya aktivitas ketika ada kegiatan literasi.Baginya, masyarakat yang memiliki budaya membaca akan memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami persoalan, mengembangkan gagasan, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan.
“Literasi bukan sekadar membaca buku. Literasi adalah kemampuan memahami kehidupan dan mengambil sikap berdasarkan pengetahuan. Karena itu, gerakan literasi harus benar-benar hadir dalam kehidupan sosial masyarakat,” pungkasnya