NETtizennews.com
Portal Berita • Cepat • Akurat • Terpercaya
TERKINI
BMKG Deteksi 4.212 Titik Panas di Papua dan Maluku, Warga Diminta Waspada Karhutla   •   Peserta Pelatihan Public Speaking di Mimika Minta PPTK Hadir, Dorong Transparansi Pelaksanaan berlangsung   •   Pusdalops Mimika Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem 21–22 Oktober 2026   •   TNI Bersama Warga Percepat Pembangunan KDKMP di Lawe Sigala-Gala, Progres Awal di Perkirakan Capai 0,17%   •   KODIM 0108/AGARA Dampingi Distribusi 1.672 Porsi Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Bukit Tusam
Lainnya

Mama Yosepha Alomang, Perempuan Tangguh Papua yang Memperjuangkan Tanah dan Martabat Masyarakat Adat

Slot iklan artikel

PAPUA, NETtizenNews.com— Nama Mama Yosepha Alomang mungkin terdengar asing bagi sebagian generasi muda Papua. Namun, bagi masyarakat adat, khususnya masyarakat Amungme di Papua, sosoknya merupakan bagian penting dari sejarah panjang perjuangan mempertahankan tanah, lingkungan hidup, hak masyarakat adat, dan martabat manusia.

Mama Yosepha Alomang dikenal sebagai salah satu perempuan Papua yang berani menyuarakan hak-hak masyarakat adat di tengah berbagai persoalan yang muncul akibat aktivitas pertambangan di wilayah adat.

Perjuangannya tidak hanya berkaitan dengan persoalan pertambangan, tetapi juga menyangkut hak masyarakat adat untuk mempertahankan tanah leluhur yang memiliki nilai sosial, budaya, spiritual, dan kehidupan bagi generasi yang akan datang.

Dalam perjuangannya, Mama Yosepha pernah memimpin aksi masyarakat Amungme dengan menduduki Bandara Timika selama tiga hari. Aksi tersebut menjadi salah satu bentuk protes terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat adat serta tuntutan agar hak-hak mereka diperhatikan dan dipertanggungjawabkan.

Mama Yosepha bersama masyarakat Amungme mempertanyakan penguasaan dan pemanfaatan tanah serta kawasan yang dianggap sakral oleh masyarakat adat, termasuk kawasan Nemangkawi, yang kemudian menjadi bagian dari wilayah eksploitasi pertambangan melalui PT Freeport Indonesia.

Bagi masyarakat adat Amungme, tanah bukan sekadar tempat untuk berpijak atau sumber ekonomi. Tanah memiliki hubungan erat dengan identitas, kehidupan, budaya, dan keberlangsungan generasi.

Karena itu, perjuangan Mama Yosepha Alomang menjadi simbol keberanian seorang perempuan Papua dalam menyuarakan kepentingan masyarakat adat dan mempertahankan hak atas tanah leluhur.

Salah satu pesan yang sering dikaitkan dengan perjuangan Mama Yosepha adalah:

«“Tuhan ciptakan tanah ini bukan untuk dijual, tapi untuk dilindungi dan diwariskan. Tanah itu adalah Ibu kami. Saya tidak takut mati untuk membela kebenaran dan rakyat saya.”»

Pesan tersebut menggambarkan pandangan bahwa tanah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat.

Bagi generasi muda Papua, perjalanan Mama Yosepha Alomang penting untuk terus dipelajari sebagai bagian dari sejarah perjuangan masyarakat adat, khususnya dalam mempertahankan hak, lingkungan, identitas, dan martabat rakyat Papua.

Mama Yosepha bukan hanya dikenang sebagai perempuan yang menentang aktivitas pertambangan, tetapi juga sebagai salah satu figur penting dalam sejarah perjuangan masyarakat adat dan pembelaan hak asasi manusia di Papua.