
Ini bukan gambar hasil AI. Ini bukan pula kisah fiksi yang dibuat untuk mengundang simpati. Ini adalah kenyataan yang setiap hari dihadapi masyarakat Sikundo, Kabupaten Aceh Barat.
Di atas seutas tali yang membentang di atas derasnya arus sungai, mereka mempertaruhkan nyawa demi sebuah harapan. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan rasa takut yang mereka pendam sendiri. Orang tua pergi mencari nafkah dengan risiko yang bisa merenggut nyawa kapan saja.
Mereka bukan sedang mencari sensasi. Mereka hanya ingin menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya.
Bukan karena tak ada jembatan. Jembatan itu pernah ada. Namun banjir bandang pada November 2025 menghanyutkannya. Ironisnya, jembatan tersebut hanya sempat bertahan sekitar satu tahun sebelum akhirnya lenyap diterjang derasnya arus.
Kini, seutas tali menjadi pengganti jembatan. Menjadi satu-satunya harapan untuk menyeberang, meski setiap langkah yang diambil adalah pertaruhan antara hidup dan maut.
Sampai kapan masyarakat harus hidup dengan kondisi seperti ini? Sampai kapan anak-anak harus mempertaruhkan masa depan mereka hanya untuk bisa sampai ke sekolah?
Semoga jeritan yang tak selalu terdengar ini dapat mengetuk hati semua pihak yang memiliki kewenangan, agar masyarakat Sikundo segera memiliki akses penyeberangan yang aman dan layak. Karena keselamatan bukanlah sebuah kemewahan, melainkan hak setiap warga negara.