NETtizennews.com
Portal Berita • Cepat • Akurat • Terpercaya
TERKINI
Oktovina Syavina Yani, Perempuan Asli Kamoro yang Dipersiapkan Membawa Identitas Budaya Papua Tengah ke Panggung Nasional   •   Jalan Trans Wamena–Tolikara Diblokade, Masyarakat Adat Mbalima Protes Penetapan DPRK Jalur Otsus Jayawijaya   •   Pemuda Diduga Membawa Senjata Laras Panjang Alami Kecelakaan di Jalur Jayapura–Sentani, Polisi Lakukan Pemeriksaan   •   Pimpin DPD REI Aceh 2026–2029, Pasca-Pelantikan Zulkifli HM Juned Gerak Cepat Matangkan Program Strategis   •   Motor Diduga Bolak-balik Membeli Pertalite di SPBU SP 2 di Timika, Pengawasan Distribusi BBM Disorot
KABAR NETIZEN

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Jadi Fenomena Langka, Apakah Bisa Disaksikan dari Indonesia?

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Jadi Fenomena Langka, Apakah Bisa Disaksikan dari Indonesia?
Slot iklan artikel

NETtizenNews.com – Fenomena Gerhana Matahari Total akan terjadi pada Rabu, 12 Agustus 2026, dan menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinantikan tahun ini. Meski menarik perhatian dunia, masyarakat Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan fenomena tersebut secara langsung.

Berdasarkan informasi dari NASA yang dikutip sejumlah sumber astronomi, jalur Gerhana Matahari Total hanya melintasi wilayah tertentu di belahan Bumi utara, di antaranya Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Rusia bagian utara, Spanyol, serta sebagian kecil Portugal. Sementara itu, gerhana sebagian akan terlihat di sejumlah wilayah Eropa, Amerika Utara, dan Afrika barat laut.

Gerhana Matahari Total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga menutupi seluruh piringan Matahari. Saat fase total berlangsung, langit berubah gelap layaknya senja meski masih siang hari. Namun, durasi gerhana total di setiap lokasi hanya berlangsung sekitar satu hingga beberapa menit.

Indonesia tidak termasuk dalam jalur bayangan Bulan pada peristiwa kali ini. Selain berada di luar lintasan gerhana, saat fenomena berlangsung sebagian besar wilayah Indonesia juga berada pada waktu malam sehingga masyarakat tidak dapat mengamati gerhana, baik dalam fase total maupun sebagian.

Meski demikian, masyarakat tetap dapat mengikuti fenomena tersebut melalui siaran langsung yang biasanya diselenggarakan oleh lembaga antariksa dan observatorium internasional. Tayangan tersebut memungkinkan publik menyaksikan proses gerhana secara aman tanpa harus berada di lokasi pengamatan.

Para ahli juga mengingatkan bahwa pengamatan Gerhana Matahari hanya boleh dilakukan menggunakan kacamata gerhana bersertifikat atau peralatan khusus. Melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung yang sesuai dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.

Fenomena Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 diperkirakan menjadi salah satu peristiwa astronomi terbesar tahun ini dan menarik perhatian jutaan pengamat langit dari berbagai negara.