Normalisasi Sungai Lawe Alas Amankan Jembatan Perintis Garuda, Akses Vital Warga Badar–Darul Hasanah Kini Terlindungi
ACEH TENGGARA, NETtizennews.com | Antisipasi dampak musim penghujan, personel Babinsa Koramil 03/Badar jajaran Kodim 0108/Agara mengawal ketat proyek pengerukan dan Normalisasi Sungai Lawe Alas di Desa Kumbang Jaya, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara, Selasa (20/10/2026).
Langkah taktis ini diambil guna mencegah luapan banjir sekaligus melindungi fondasi Jembatan Gantung Perintis Garuda yang terancam tergerus arus sungai.
Danramil 03/Badar, Kapten Inf Sadriadi, menjelaskan bahwa penumpukan material pasir, lumpur, dan tanah di badan sungai telah menghambat arus air. Jika dibiarkan, pendangkalan ini berpotensi memicu luapan banjir yang dapat merendam pemukiman warga serta merusak infrastruktur jembatan penyeberangan.

“Kami mengerahkan para Babinsa ke lapangan untuk mengawasi langsung jalannya pengerukan. Saat ini ada dua unit alat berat ekskavator (excavator) yang diterjunkan langsung di lokasi,” ujar Kapten Inf Sadriadi.
Ia menambahkan, normalisasi ini mendesak dilakukan mengingat wilayah Aceh Tenggara mulai memasuki musim penghujan. “Jika tidak segera diatasi, aliran air bisa meluap ke perkampungan dan membahayakan jembatan gantung yang sangat aktif dilalui oleh masyarakat. Semoga dengan pengerukan ini, air kembali mengalir pada jalurnya, warga aman dari banjir, dan akses transportasi tetap lancar,” imbuhnya.

Aktivitas normalisasi ini mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat setempat. Ali Yusak Selian, salah seorang warga, mengungkapkan rasa kelegaan dan terima kasihnya atas gerak cepat TNI dan pihak terkait. Menurutnya, Jembatan Perintis Garuda merupakan urat nadi perekonomian yang menghubungkan dua wilayah penting.
“Jembatan Perintis Garuda ini adalah akses utama kami untuk mobilitas warga dari Kecamatan Badar menuju ke Darul Hasanah, begitu juga sebaliknya. Kami sangat khawatir setiap kali debit air Kali Alas naik karena arusnya bisa mengikis daratan penyangga jembatan. Dengan adanya normalisasi dan pengerukan ini, kami merasa jauh lebih tenang karena jembatan ini sekarang terlindungi dari ancaman ambruk,” ungkap Ali Yusak Selian.
Melalui sinergi pengawasan dari Babinsa dan percepatan pengerukan menggunakan alat berat, proyek ini diharapkan selesai tepat waktu sebelum puncak musim penghujan tiba, sehingga stabilitas ekonomi dan keselamatan transportasi antar-kecamatan di Aceh Tenggara tetap terjaga.