NETtizennews.com
Portal Berita • Cepat • Akurat • Terpercaya
TERKINI
Pusdalops Mimika Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem 21–22 Oktober 2026   •   Kejar Target Pipanisasi, Satgas TMMD Kodim 0108/Agara & Warga Percepat Pengecoran Bak Penampung Air Bersih di Desa Lawe Sagu Hulu   •   Kejar Target Fisik, Satgas TMMD Ke – 130 Kodim 0108/Agara Kebut Jembatan Aramco   •   Percepat Pemulihan Infrastruktur, Satgas PRR dan Pemkab Aceh Tenggara Tinjau Normalisasi serta Jembatan Gantung Perintis Garuda Jati Alas di Kumbang Jaya   •   Aktivis Mahasiswi Geofani Pogolamun Soroti Pelatihan Public Speaking Dana Otsus Rp12 Miliar di Mimika
DAERAH

Harga TBS Sawit di Aceh Singkil Naik Rp120 per Kilogram, Petani Hadapi Musim Trek

Harga TBS Sawit di Aceh Singkil Naik Rp120 per Kilogram, Petani Hadapi Musim Trek
Slot iklan artikel

SINGKIL, NETtizennews.com — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Kabupaten Aceh Singkil mengalami kenaikan Rp120 per kilogram, Rabu (9/9/2026).

Harga TBS yang sebelumnya berada di angka Rp2.680 per kilogram kini naik menjadi Rp2.800 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut dibenarkan pengepul sawit UD Ram Alwi Hutabarat di Desa Gosong Telaga Barat, Aceh Singkil.

Owner UD Ram Alwi Hutabarat, Anto, mengatakan kenaikan harga disertai dengan ketentuan kualitas buah yang diterima. Petani diminta hanya memanen buah sawit yang telah matang sempurna.

“Harga sawit menjadi Rp2.800 per kilogram. Tidak menerima buah sawit mengkal, mentah, kuning pucat, busuk, jangkos dan buah kecil,” kata Anto.

Ketentuan tersebut mengacu pada standar pabrik pengolahan minyak mentah kelapa sawit yang mengutamakan buah dengan tingkat kematangan sempurna.

Produksi Sawit Turun 25-30 Persen

Di tengah kenaikan harga, petani justru menghadapi penurunan produksi yang dikenal sebagai musim trek.

Produksi TBS disebut mengalami penurunan sekitar 25 hingga 30 persen per hektare dibandingkan kondisi normal.

Sebelumnya, hasil panen dari satu hektare kebun sawit dalam sekali panen bisa mencapai lebih dari satu ton. Namun, saat memasuki musim trek, hasil panen disebut turun menjadi kurang dari satu ton per hektare.

“Lagi musim trek, produksi buah rata-rata sedang turun,” ujar Afri, salah seorang petani sawit.

Menurut petani, penurunan produksi mulai dirasakan sejak akhir Agustus 2026.

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan masuknya musim kemarau yang menyebabkan curah hujan berkurang. Minimnya hujan dinilai turut memengaruhi proses pembentukan dan pematangan buah sawit.

“Karena tidak hujan makanya buah tidak ada yang masak,” kata Iwan, petani sawit lainnya.

Kenaikan harga TBS menjadi Rp2.800 per kilogram diharapkan dapat membantu petani menghadapi penurunan produksi selama musim trek. Namun, berkurangnya hasil panen tetap menjadi tantangan bagi pendapatan petani sawit di Aceh Singkil.